Patos Allah Mendahului Murkanya Jurnal At-tauhid

  • on April 29, 2021

Pembaca Buletin At Tauhid yang semoga dirahmati sang Allah. Terdapat sebuah hadits bermula Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tatkala Allah membentuk para makhluk, Dia menulis berbobot kitab-Nya, yang buku itu terletak di sisi-Nya di dan ‘Arsy, “Sesungguhnya patos-Ku lebih mengalahkan nafsu-Ku.” (HR. Bukhari no. 6855 dengan Muslim no. 2751)

Di batin (hati) Fathul Bari, hadits pada beserta menyebutkan bahwa empat Allah ta’ala lebih dulu terdapat bersama lebih besar ketimbang marah-Nya. Hal itu disebabkan empat Allah ta’ala yakni prilaku yang telah melekat pada diri-Nya (sifat dzatiyyah) lalu diberikan pada makhluk-Nya tanpa gara-gara apapun. Dengan kata lain, meskipun tidak pernah ada bajik beserta persembahan sejak makhluk-Nya, pada asalnya Allah ta’ala tetap nafsu pada makhluk-Nya. Dia menciptakannya, membantu rizki kepadanya mulai mulai dalam prinsip, ketika penyusuan, mencapai akil balig, walaupun belum ada amal darinya jatah Allah ta’ala. Sementara marah-Nya menyembul beserta karena kesalahan bermula makhluk-Nya. Maka dari itu, belas kasihan Allah ta’ala sudah wajib mendahului marah-Nya.

Dari hadits pada atas jua menunjukkan bagaimana luasnya belas kasihan Allah yg diberikan pada makhluk-Nya. Berikut aku sampaikan sejumlah sejarah yg berurusan lalu luasnya empat Allah ta’ala.
US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Allah memungut belas kasihan (kurnia suka) itu seratus jurusan, lantas Dia menahan di sisi-Nya 99 divisi beserta Dia melengserkan satu bagiannya ke jagat. Dari satu satuan inilah semua makhluk berkasih cinta sesamanya, mencapai-tiba seekor kuda adopsi kakinya karena sakit hati memijak anaknya.” (HR. Bukhari no. 5541 dengan Muslim no. 2752)

Dari Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu, sira menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemunculam kontingen tahanan bentrokan senjata. Di antara-antara rombongan itu terdapat seseorang bunda yg meskipun menelusuri-raba bayinya. Tatkala dirinya berhasil mendapati bayinya di ganggang tawanan itu, maka dia meski memeluknya karib -dekat ke tubuhnya lalu menyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pertanyaan kepada kami, “Apakah dari kalian makini mau tega melemparkan anaknya ke berarti (maksud) kobaran api?” Kami tangkis, “Tidak entah, apabila Allah. Sementara dirinya mampu untuk menghalangi bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih suka pada hamba-hamba-Nya usahkan makini kepada anaknya.” (HR. Bukhari no. 5999 lalu Muslim no. 2754)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalau jika seseorang mukmin mengetahui semua arsitektur hukuman yg ada di sisi Allah niscaya bukan hendak ada seseorang walau yang masih berhasrat jatah mendapatkan nirwana-Nya. Dan apabila kalau seseorang kafir mengetahui segala desain empat yang terdapat pada sisi Allah pasti tidak akan terdapat seorang meski yang berputus harapanmemperoleh surga -Nya.” (HR. Bukhari no. 6469 bersama Muslim no. 2755)

Jangan Berputus Asa pada, Rahmat Allah

Setelah mendeteksi bagaimana luasnya patos Allah ta’ala, dan sampai-sampai seharusnya saya lebih bersemangat dengan bagi menggapainya beserta jangan mencapai berputus harapan darinya. Sikap bubar harapan dari belas kasihan Allah inilah yg Allah sifatkan kepada badan-perseorangan kafir dengan diri-diri yg sesat. Allah berfirman, “Mereka tangkis, ‘Kami mengirimkan informasi bahagia kepadamu lalu benar, dan sampai-sampai janganlah kau terdaftar diri-diri yg berputus harapan’. Ibrahim menyampaikan, ‘Tidak terdapat sendiri yang berputus harapan sejak patos Rabb-Nya, kecuali sendiri-pribadi yg sesat’.” (QS. Al Hijr: 55-56)

Dan jua firman-Nya, “Wahai anak-anakku, pergilah kamu, dan sampai-sampai carlah warta dekat-dekat Yusuf lagi saudaranya lagi jangan kamu berputus harapan sejak rahmat Allah. Sesungguhnya tak berputus asa mulai rahmat Allah tetapi kaum yg kafir.” (QS. Yusuf: 87). Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly hafidzahullah memberikan faidah untuk poin pada beserta, “Oleh karena itu, berputus harapan bermula rahmat Allah ta’ala artinya watak pribadi-diri sesat dengan putus asa mengenai bakat-Nya adalah watak diri-badan kafir. Karena mereka tak mengetahui keringanan belas kasihan Rabbul ‘Aalamiin. Siapa saja yang turun berbobot aktivitas pantangan ini berarti sira sudah memiliki sifat yang menyamai dengan mereka, laa haula wa laa quwwata illaa billaah.”

Selain itu, berputus harapan berawal belas kasihan Allah juga tercantum dosa satu diantara syirik-kesalahan menonjol. Diriwayatkan berawal Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam waktu ditanya dekat-dekat salah-salah berkuasa sira menimpali, “Yaitu syirik pada Allah, putus harapan sejak rahmat Allah, dan sadar rukun mulai makar/adzab Allah.” (HR. Ibnu Abi Hatim, hasan)

Ampunan Allah Termasuk Rahmat-Nya

Pembaca yg dirahmati Allah, maksiat satu bentuk luasnya patos Allah yaitu luasnya lepas Allah untuk para hamba-Nya yg pernah melakukan kemaksiatan pada Allah, selagi hamba tadi hendak bertaubat. Allah ta’ala berfirman, “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yg malampaui garis mengenai badan mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa sejak belas kasihan Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni maksiat-kesalahan seluruh. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun dengan Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)

Ibnu Katsir rahimahullah terjemah bab di bersama-sama, “Ayat yg mulia ini berarti (maksud) anjuran kepada setiap perseorangan yg bekerja kesalahan baik kekafiran bersama lainnya untuk segera bertaubat kepada Allah. Ayat ini melaporkan maka Allah akan memaafkan semua kesalahan jatah siapa yg ingin bertaubat sejak maksiat-dosa tersebut, kendati dosa tersebut amat sangat melimpah, serupa buih pada samudera .”

Kemudian beliau mencantumkan, “Berbagai hadits menunjukkan maka Allah mengampuni setiap syirik (terdaftar juga kesyirikan) bila seorang akan bertaubat. Janganlah seorang berputus asa dari belas kasihan Allah, kendatipun begitu membludak syirik yang sira lakukan karena pintu taubat lalu belas kasihan Allah begitu besar.”

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah ta’ala berfirman, “…Hai kanak-kanak Adam, sungguh andaikan kamu bertandang menghadapKu lalu membawa syirik sepenuh globe, dan kau hadir tanpa mempersekutukan-Ku lalu sesuatupun. Sungguh Aku mau mendatangimu dan maaf sepenuh bumi juga.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Jangan Kau Undang Murka Allah dan Merasa Aman Darinya

Banyak insan yg tenggelam lantaran luasnya patos bersama sayang sayang Allah terhadapnya, kemudian adopsi dia menganggap damami mulai datangnya marah Allah ditimbulkan salah dan kemaksiatan yg beliau lakukan. Kemurkaan Allah mampu mendarat berupa adzab lalu aniaya apik pada jagat sekalipun pada akhirat.

Allah ta’ala berfirman, “Maka apakah mereka rukun mulai adzab Allah (yg tak terduga-tebak datangnya)? Tiadalah yang menganggap rukun mulai adzab Allah selain badan-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99). Ayat tersebut mengungkapkan maka diantara sifat diri-pribadi musyrik ialah mereka menganggap damami sejak siksa Allah beserta tak menganggap tersinggung berawal penindasan-Nya.

Maka esensi adzab (makar) Allah ta’ala yaitu Allah memberikan kecualian pada seorang hamba yang selalu beraksi kesalahan beserta kesalahan beserta memudahkan urusannya (dalam bermaksiat) sehingga di benar-akurat merasa damami bermula murkabeserta penindasan-Nya. Dan bidang inilah yang dinamakan “istidraj”.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika Allah menaruh keenakan kepada seorang hamba padahal dia tetap dan dosa yg dikerjakannya, dan sampai-sampai bahwasanya itu artinya istidaj.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membacakan firman Allah, “Maka ketika mereka melewatkan ultimatum yang telah diberikan kepada mereka, Kami meski membukakan semua pintu-pintu kesukaan jatah mereka, Kami aniaya mereka lagi tiba-tiba. Maka waktu itu mereka bengong bersama berputus asa.” [QS. Al An’am: 44] (HR. Ahmad, shahih)

Miliki Rasa Harap (kepala suku’) lalu Takut (khauf)

Article Categories:
Success

Comments are closed.