Rahmat Allah Memprakarsai Murka -nya Jurnal At-tauhid

  • on April 28, 2021

Pembaca Buletin At Tauhid yg agar dirahmati oleh Allah. Terdapat sebuah hadits pada, Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tatkala Allah membentuk para makhluk, Dia batik berarti (maksud) buku-Nya, yg buku itu terletak di sisi-Nya pada beserta ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan amarah-Ku.” (HR. Bukhari no. 6855 dengan Muslim no. 2751)

Di batin (hati) Fathul Bari, hadits pada bersama-sama menjelaskan bahwa patos Allah ta’ala lebih lalu ada lalu lebih luas dari marah-Nya. Hal itu ditimbulkan patos Allah ta’ala ialah watak yang sudah pernah erat dalam diri-Nya (kepribadian dzatiyyah) dan diberikan kepada makhluk-Nya tanpa gara-gara apapun. Dengan ocehan lain, biarpun tidak pernah terdapat amal dan kontribusi sejak makhluk-Nya, dalam asalnya Allah ta’ala daim cinta pada makhluk-Nya. Dia menciptakannya, membagi rizki kepadanya berawal sejak berarti (maksud) bunyi, ketika penyusuan, tiba akil balig, maupun belum terdapat dedikasi darinya bagi Allah ta’ala. Sementara marah-Nya terangkat lalu karena kesalahan pada, makhluk-Nya. Maka pada, itu, patos Allah ta’ala sudah yakin memprakarsai murka -Nya.
US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US
Dari hadits di degan jua memberitahuakn betapa luasnya empat Allah yang diberikan kepada makhluk-Nya. Berikut kami sampaikan sebagian riwayat yg berurusan bersama luasnya patos Allah ta’ala.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Allah mengangkat rahmat (cinta sayang) itu seratus jurusan, lalu Dia menahan pada sisi-Nya 99 kelompok lagi Dia melengserkan satu bagiannya ke dunia. Dari satu satuan inilah seluruh makhluk berkasih nafsu sesamanya, tiba-tiba seekor kuda mengambil kakinya lantaran kecil hati menginjak anaknya.” (HR. Bukhari no. 5541 lagi Muslim no. 2752)

Dari Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu, sira menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemunculam kaum tawanan pertempuran. Di tengah-antara kaum itu terdapat seseorang bunda yang sebaliknya mencari-raba bayinya. Tatkala dirinya dapat menjumpai bayinya di ganggang tawanan itu, dan sampai-sampai dirinya pun memeluknya dekat-dekat ke tubuhnya lagi menyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam soal kepada aku, “Apakah menurut kalian bunda ini hendak tega melontarkan anaknya ke batin (hati) kobaran cahaya?” Kami mengelak, “Tidak entah, atas nama Allah. Sementara dirinya bisa untuk menghalangi bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih nafsu pada hamba-hamba-Nya usahkan ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari no. 5999 dengan Muslim no. 2754)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalau kalau seseorang mukmin mengetahui seluruh patron hukuman yang terdapat di sisi Allah pasti tidak akan ada seseorang walau yang masih berkeinginanmendapatkan nirwana-Nya. Dan jikalau andaikan seseorang kafir mendeteksi segala desain rahmat yang ada di sisi Allah niscaya bukan akan ada seseorang kendati yg berputus harapanmeraih surga -Nya.” (HR. Bukhari no. 6469 lagi Muslim no. 2755)

Jangan Berputus Asa bermula Rahmat Allah

Setelah mendeteksi bagaimana luasnya belas kasihan Allah ta’ala, maka sepatutnya saya lebih bersemangat beserta bagi menggapainya beserta jangan sampai berputus harapan darinya. Sikap putus asa berawal empat Allah inilah yg Allah sifatkan kepada sendiri-perseorangan kafir lagi diri-sendiri yg sesat. Allah berfirman, “Mereka menjawab, ‘Kami antar informasi gembira kepadamu lalu benar, maka janganlah kau terkandung diri-diri yang berputus asa’. Ibrahim mengatakan, ‘Tidak ada orang yang berputus harapan pada, empat Rabb-Nya, kecuali pribadi-diri yang sesat’.” (QS. Al Hijr: 55-56)

Dan pula firman-Nya, “Wahai budak-anakku, pergilah engkau, maka carlah warta tentang Yusuf dengan saudaranya dan jangan engkau berputus asa dari patos Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa mulai empat Allah namun kaum yg kafir.” (QS. Yusuf: 87). Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly hafidzahullah menaruh faidah jatah butir di beserta, “Oleh gara-gara itu, berputus asa sejak belas kasihan Allah ta’ala adalah kepribadian diri-perseorangan sesat lalu pesimis perkara bakat-Nya yakni watak pribadi-pribadi kafir. Karena mereka tak mendeteksi keringanan patos Rabbul ‘Aalamiin. Siapa belaka yg turun batin (hati) pekerjaan terlarang ini berarti dia telah memiliki kepribadian yg serupa beserta mereka, laa haula wa laa quwwata illaa billaah.”

Selain itu, berputus harapan dari belas kasihan Allah juga tercatat maksiat satu diantara dosa-syirik kuat. Diriwayatkan pada, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya hampiran maksiat-salah berpengaruh ia menimpali, “Yaitu kesalahan kepada Allah, kandas harapan bermula rahmat Allah, dan menganggap rukun bermula muslihat/adzab Allah.” (HR. Ibnu Abi Hatim, hasan)

Ampunan Allah Termasuk Rahmat-Nya

Pembaca yg dirahmati Allah, salah satu desain luasnya empat Allah adalah luasnya lepas Allah bagi para hamba-Nya yang sempat melangsungkan kemaksiatan kepada Allah, mumpung hamba tadi hendak bertaubat. Allah ta’ala berfirman, “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yg malampaui batas mengenai badan mereka orang, janganlah kamu berputus harapan berawal belas kasihan Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lalu Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)

Ibnu Katsir rahimahullah terjemah ayat di dan, “Ayat yg mulia ini dalam ajakan kepada setiap perseorangan yg bertindak syirik apik kekafiran dengan lainnya jatah segera bertaubat pada Allah. Ayat ini memberitakan maka Allah hendak mengampuni seluruh salahsiapa yg ingin bertaubat berawal kesalahan-syirik tersebut, kendatipun kesalahan tadi benar-benar membludak, serupa buih pada samudera .”

Kemudian sira menyertakan, “Berbagai hadits menunjukkan maka Allah memaafkan setiap maksiat (terdaftar pula kesyirikan) andaikata seorang bakal bertaubat. Janganlah seorang berputus asa berawal patos Allah, walaupun serupa itu melimpah salah yg dia lakukan karena pintu taubat lalu patos Allah serupa itu lega.”

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah ta’ala berfirman, “…Hai kanak-kanak Adam, sungguh jika engkau masuk menghadapKu beserta ajak salah sepenuh jagat, bersama kau bertandang tanpa mempersekutukan-Ku beserta sesuatupun. Sungguh Aku mau mendatangimu lalu pembebasan sepenuh globe pula.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Jangan Kau Undang Murka Allah bersama Merasa Aman Darinya

Banyak insan yg tenggelam karena luasnya rahmat lagi iba cinta Allah terhadapnya, akibatnya adopsi dia menganggap aman pada, datangnya marah Allah disebabkan maksiat beserta kemaksiatan yang ia lakukan. Kemurkaan Allah mampu bertandang berupa adzab lagi aniaya baik pada bumi kendati di akhirat.

Allah ta’ala berfirman, “Maka apakah mereka aman bermula adzab Allah (yang tidak terduga-taksir datangnya)? Tiadalah yg merasa rukun sejak adzab Allah kecuali diri-pribadi yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99). Ayat tadi mengungkapkan maka diantara prilaku sendiri-diri musyrik yaitu mereka menganggap aman berawal penindasan Allah lagi bukan menganggap takut pada, siksa-Nya.

Maka hakikat adzab (makar) Allah ta’ala ialah Allah memberikan kemudahan kepada seorang hamba yang senantiasa bertindak kesalahan dengan salah beserta mempermudah urusannya (berarti (maksud) bermaksiat) kemudian di akurat-benar sadar aman dari murkalagi aniaya-Nya. Dan babak inilah yg dinamakan “istidraj”.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bila Allah menaruh kenikmatan kepada seseorang hamba meskipun dia daim dan dosa yang dikerjakannya, dan sampai-sampai sebetulnya itu ialah istidaj.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membacakan firman Allah, “Maka ketika mereka melupakan ultimatum yang sudah pernah diberikan pada mereka, Kami meski membukakan semua pintu-pintu candu untuk mereka, Kami penindasan mereka lagi mendadak. Maka ketika itu mereka terdiam beserta berputus harapan.” [QS. Al An’am: 44] (HR. Ahmad, shahih)

Miliki Rasa Harap (kepala suku’) lalu Takut (khauf)

Article Categories:
Success

Comments are closed.